Placeholder image
Home > Updates > Moto-review > Transformasi sang Kuda Kerja; Lambretta.
11 September 2019 | Oleh

Setelah lebih dari seminggu berkencan dengan Lambretta V125 ini. Terus terang Om Moto jatuh cinta. Walaupun secara tenaga dan teknologi mungkin kalah dengan rivalnya dari merek merek lain, namun secara keseluruhan Om Moto suka motor ini. Karena menurut Om Moto, motor ini berhasil mewujudkan transformasi Lambretta yang dulu menjadi Lambretta yang kekinian. Lambretta as a workhorse, but in style.

Perkenalkan, saya Om Moto. Tukang ojek atau bahasa keren-nya “Official 2 Wheelers Tester” dari MotoMobi.

Buat saya selalu menyenangkan kalau mendapat kabar dari markas besar MotoMobi bahwa ada motor baru untuk di”abuse”. Senang rasanya menjadi kanak kanak lagi. Utak atik sana sini dan mengeksplorasi. 

Setelah menerima kabar lagi dari Om Gendut, tibalah hari kencan yang dijadwalkan, saya berangkat ke markas MotoMobi untuk menjemput target operasi tanpa mengetahui siapa lawan kencan kali ini. Dan setibanya di markas MotoMobi, sudah menunggu dengan manis sebuah scooter,  Lambretta V125 warna Hijau Mint.

Sebuah Obsesi Italia

Kalau saja D’Ascanio, desainer yang ditunjuk oleh Ferdinando Innocenti tidak berpaling ke Enrico “Piaggio”, mungkin Lambretta-lah yang menjadi ikon Itali, bukan Vespa yang seperti kita kenal sekarang.

Visi yang berbeda membuat Corradino D’Ascanio meninggalkan Innocenti, yang mencoba membangun kembali pabrik miliknya untuk bangkit dari keterpurukan perang, dengan sebuah konsep kendaraan yang murah namun dapat diandalkan untuk bekerja. Kepergian sang desainer D’Ascanio membuat Lambretta lahir satu tahun lebih lambat dari “Sang Tawon”, vespa pertama yang legendaris. Namun berkat kegigihan Innocenti untuk mewujudkan visinya, lahirlah Model A, atau Lambretta 125M.

(Lambretta Model A atau Lambretta 125M).

Nama Lambretta diambil dari sebuah julukan untuk makhluk air supernatural di sungai Lambro yang mengalir disepanjang sebuah daerah yang dinamai Lambrate, sebuah distrik yang terletak di pinggiran kota Milan.  

Visi Innocenti terwujud, Lambretta dikenal sebagai sebuah skuter yang dapat diandalkan untuk bekerja dan bermobilitas. Sedangkan Vespa lebih dikenal sebagai skuter untuk bersenang senang pada masa itu. Vespa vs Lambretta ibarat Coca Cola versus Pepsi, The Beatles lawan Rolling Stone, dua ikon Italia yang berada pada posisi yang setara pada masa-nya. Dengan masing masing basis fans yang setia. Untuk Lambretta, Lambrettisti, dengan moto “passione lambretta” atau gairah untuk Lambretta, adalah julukan yang disematkan untuk para fanatik skuter dari pabrikan Innocenti ini.

Pada masanya, Lambretta sempat dikenang sebagai sebuah skuter yang sangat amat dapat diandalkan. Posisi mesin yang berada di tengah membuat pengendalian menjadi lebih mudah, lebih sporty dan  dengan teknologi yang jauh lebih baik dibandingkan dengan Vespa pada saat itu, serta positioning harga yang lebih mahal bila dibandingkan dengan Vespa. Berbanding terbalik dengan Vespa, yang pada masa yang sama, kalau ada yang tiba tiba copot dari body Vespa, dianggap bukanlah sesuatu hal yang aneh. Malah merupakan bagian dari daya tarik Vespa itu sendiri. Buat Om Moto sendiri, waktu Om Moto masih agak muda dan sering naik Vespa tua, kalau tiba tiba cover body samping copot saat di perjalanan, bukan lah hal yang aneh.

Waktu Om Moto masih kecil, Om Moto ingat Lambretta sempet menjadi tulang punggung mesin kerja moda transportasi di Ibu Kota Jakarta, terkenal dengan sebutan Helicak. Helicak sempat menjadi salah satu moda transportasi ngetrend di Ibu Kota jakarta tahun 1970-an. Sekitar 400 Lambretta yang kemudian dimodifikasi untuk menjadi Helicak diimpor ke Indonesia pada saat itu. 

Kembali ke pertarungan Lambretta versus Vespa. Sampai suatu saat ketika dewi keberuntungan berpihak kepada Piaggio:  pada tahun 1953, sebuah scene di film Roman Holiday  dimana Audrey Hepburn dan Gregory Peck berkeliling kota Itali dengan menggunakan Vespa, membuat Vespa-pun mendunia dan menjadi sebuah ikon Italia. Demam Vespa pun dimulai. Selanjutnya, di era tahun 60an generasi muda Italia, tidak lagi melihat Lambretta sebagai sesuatu yang “muda”. Lambretta adalah untuk orang orang tua.

Seiring perjalanan waktu, penjualan Lambretta pun semakin terpuruk walaupun telah dibantu oleh FIAT yang juga akhirnya mengalami kesulitan. Untuk selanjutnya pabrikan Lambretta dijual ke British Motor Company untuk kemudian kembali berpindah tangan menjadi milik Scooters India Limited. Sedangkan untuk hak intelektual dimiliki oleh Lambretta Consortium atau Innocenti SA (Dispute). Dibawah SIL, Lambretta semakin terpuruk lagi, karena kualitas yang semakin memburuk dan semakin tidak dapat diandalkan. Lambretta bukanlah lagi “The Old Man Workhorse” dan “A Serious Business Partner”, atau sebuah mesin kerja yang dapat diandalkan seperti visi awal Innocenti.

Legenda yang Terlahir Kembali

Setelah kapitalisasi merek Lambretta di berbagai produk seperti Jam tangan, Parfum dan pakain, sangat masuk akal bila Innocenti SA bersama sama dengan Walter Scheffrahn, seorang spesialis branding dari Belanda bekerja sama untuk melahirkan kembali Lambretta. Lambretta Vendetta untuk melahirkan kembali skuter Lambretta legendaris pun dimulai dengan menunjuk rumah desain global Kiska. Kiska adalah rumah desain yang berhasil mendesain dengan sukses produk produk otomotif seperti motor KTM, helm Schubert, sepatu Adidas dan lain lain.

Untuk mempercepat proses kelahiran kembali dan memaksimalkan investasi, jalan tengah yang dipilih daripada membangun pabrik baru adalah dengan menggunakan platform yang sudah ada. Platform yang dipilih adalah dari skutik Fiddle III keluaran pabrikan global Taiwan SanYang Motor, atau lebih dikenal dengan sebutan SYM.


(Basis produksi untuk Lambretta reborn V-Series: SYM Fiddle III)

Adalah sangat logis untuk memilih SYM sebagai penyedia platform bagi Lambretta reborn, selain teknologi terdepan, riwayat pabrikan Taiwan sebagai pemimpin teknologi mesin motor otomatis telah teruji melalui  perjalanan waktu yang panjang. Sebagaimana BMW memilih Kymco sebagai penyedia platform untuk Maxi Scooter C600 seri-nya.

Cukup sudah Om Moto bercerita tentang serba serbi Lambretta, ayo kita mulai mengulas si Hijau Mint. Lambretta V125 Special.

Lambretta V125 Special 

Mesin, Suspensi dan Pengereman

Saat pertama kali Om Moto mencoba menghidupkan si Hijau Mint, ada yang hilang. Engkol. Sebagai orang jadul rasanya ada sensasi yang hilang, namun tak apalah. Berarti sekarang si Lambretta sudah mengikuti kemajuan jaman, alias kekinian, tinggal pencet. Tata cara memanggil roh spirit air dari sungai Lambro ini juga sesuai dengan ritual yang kekinian, kunci pada posisi engine on, tekan tuas dan pencet. Mesin pun hidup.

Setelah mesin hidup, ada lagi yang berbeda, suara mesin. Suara mesin khas motor matic zaman now. Tak apalah, yang penting bisa jalan. Setelah semua ritual selesai, posisi duduk nyaman, mulailah Om Moto menarik pedal gas untuk mengajak si Hijau Mint pulang ke rumah Om Moto.

Kejutan baru, di putaran rendah saat mulai jalan, si Hijau Mint ini juga sesuai dengan julukan plesetannya, lambretta alias lambat. Mesin dengan kubikasi 124.7cm3 terasa pelan untuk mendorong si Hijau Mint beranjak mulai bergerak. Namun perlahan tapi pasti, Lambretta V125 ini dengan lincahnya mulai membawa Om Moto pulang ke kandang. Dalam perjalanan, walaupun lemot di putaran rendah, saat tenaga lebih diperlukan dan tuas gas dihentakan, meskipun tidak instan, mesin buatan SYM Taiwan ini mampu mengirimkan torsi yang diperlukan si Hijau Mint untuk menggendong Om Moto yang cukup gendut ini bermanuver menembus kemacetan dan bermanuver saat diperlukan. Untuk sektor mesin, Om Moto sama sekali tidak merasa takut dan sungkan untuk bejek tuas gas seenak udel, karena Om Moto tau persis kualitas mesin pabrikan taiwan yang terkenal dapat diandalkan.

Om Moto kaget dengan kelincahan Lambretta V125 ini. Sangat nyaman diajak manuver selap selip. Om Moto yang nggak terlalu tinggi (170an lebih dikit) rasanya pas berpasangan dengan motor yang panjangnya 189cm, lebar 69,5cm dan tinggi 111,5cm ini. Kaki masih bisa menapak dengan gampang ke permukaan jalan.

Jok kulit yang memberikan kan kesan sporty juga mewah, ditambah dengan formula suspensi depan teleskopik dan suspensi belakang tunggal, walaupun bukan suspensi ganda seperti versi V200, dapat membuat pantat Om Moto rasanya cukup adem. Hentakan dari polisi tidur kurus kering yang berjejer di depan kantor juragan Kacang Garuda Tanah kusir terasa lebih bersahabat dipinggang Om Moto yang sudah mulai sesekali encok ini. Menurut Om Moto malah lebih nyaman bila dibandingkan dengan skuter merek satunya yang masih saudara satu kampung di Italia sana.

Tidak terasa, sampailah di kandang Om Moto, overall rasanya fun dan seru digendong oleh si Hijau Mint V125 ini. Sistem pengereman menggunakan cakram baik untuk roda depan maupun roda belakang juga terasa sangat nyaman untuk Om Moto karena nggak ngagetin dan smooth.

Tapi sepanjang perjalanan dan hari mulai gelap, Om Moto melihat sesuatu yang aneh di layar LCD. Kok LCD-nya berwarna merah jambu? Apakah ada yang Om Moto salah pencet?

Biarkanlah merah jambu. Besok aja tak utak atik lagi.

Desain Estetika dan Fungsi

Kemarin, Om Moto belum sempat melihat secara detail desain Lambretta V125 ini karena Om Moto buru buru mau pulang kerumah. Hari ini ada banyak waktu lebih banyak untuk menikmati keindahan si Hijau Mint ini.

Desain itu subjektif, dan Om Moto paham betul soal subjektifitas selera. Tapi buat Om Moto, tim rumah desain Kiska berhasil menerjemahkan karakteristik dari nenek moyang Lambretta terdahulu ke generasi terkini. Walaupun ada beberapa karakteristik desain Lambretta yang hilang.

 

Salah satu ciri khas dari karakter Lambretta yang hilang adalah dek datar membentuk garis lurus sampai ke bagian bodi belakang.  Namun dari hasil tanya sana sini Om Moto, hal ini merupakan konsekuensi dari jalan pintas yang ditempuh oleh Innocenti SA dan Scheffrahn untuk menggunakan platform yang sudah jadi, dan menggunakan mesin otomatis. Agar mesin bisa masuk dengan pas dan kaki kaki termasuk knalpot, rela tidak rela, bagian pantat belakang Lambretta “kekinian” harus dibuat agak naik ke atas.

Walaupun demikian, Om Moto suka sekali dengan overall desain dari Lambretta V125 ini. Ukuran bodi yang tidak terlalu panjang dan juga tidak terlalu pendek. Secara keseluruhan terlihat berbeda dengan saudara sekampung-nya. Aksen garis hitam yang solid memberikan kesan ukuran bodi yang lebih panjang dan serta struktur yang tegas. Rim warna hitam memberikan kesan kokoh, juga  membuat warna bodi yang cerah semakin dominan dan sedap dipandang.

Dari bagian belakang, lampu belakang, profil jok, serta bodi yang langsing, akan menjadi ciri khas unik yang membuat Lambretta dengan mudah dikenali dari belakang.

Dari depan, walaupun terlihat mirip dengan skuter pabrikan Piaggio, Lambretta berhasil memberikan ciri yang membuat V125 ini unik.

Selain desain logo aksen warna merah biru dengan batasan warna hitam yang tegas yang merupakan ciri khas Lambretta, desain dari lampu skuter V125 yang tidak bulat ini, cenderung agak kotak berbentuk honeycomb ditambah dengan akses garis putih bertuliskan logo Lambretta, membuat V125 ini tampil unik.

Menurut Om Moto ini penting. Ditengah krisis identitas banyak produk yang ‘me too’, Lambretta berhasil membuat aspek pembeda. Terbukti selama beberapa hari Om Moto berkencan dengan Lambretta V125 ini. Rata rata pengendara skuter Itali lain kalau berpapasan dijalan, jelas jelas melirik si Hijau Mint. 

Bagian belakang pun tidak luput dari sentuhan desain yang apik dengan pemberian signature alias penanda yang unik adalah desain lampu belakang. Desain lampu belakang Lambretta V125 tampak menonjol dengan desain berbentuk memanjang dengan aksen bentuk honeycomb persis dengan desain lampu depan. Ditambah bentuk lekukan dari jok tampak belakang plus pertimbangan untuk meletakkan lampu signal untuk berbelok persis menjadi satu kesatuan dengan lampu belakang. Semua pertimbangan aspek desain ini membuat Lambretta V125 memiliki ciri khas yang kuat dilihat dari belakang sekalipun.

Di malam hari, desain lampu yang disokong dengan teknologi LED ini  lebih dari cukup untuk menemani perjalanan. Yang membuat Om Moto respek adalah aspek penerangan dari lampu Lambretta V125 ini sudah didesain sedemikian rupa agar tidak melebihi kaca spion samping pengendara  mobil mobil pendek seperti sedan dan sejenisnya. Buat Om Moto ini nilai plus. Sebuah pertimbangan desain yang dewasa.

Dilihat dari depan pun tidak akan menyilaukan pengendara yang datang dari arah berlawanan. Sekali lagi, buat Om Moto ini adalah aspek desain yang merupakan nilai plus, ditengah tengah kesembronoan perilaku pengendara saat ini yang menggunakan lampu HID atau LED putih tanpa disokong oleh rumah lampu yang sesuai.

Selain lampu depan yang menggunakan teknologi LED, lampu belakang Lambretta V125 ini juga sudah menggunakan teknologi LED, begitu juga dengan lampu sinyal untuk berbelok yang terletak dalam satu kotak yang sama.

Tak lepas dari sentuhan unik, adalah detail desain cantolan. Iya, cantolan. Pertama tama Om Moto agak bingung ini apa, ternyata cantolan. Fitur dan desain cantolan ini walaupun tampak sangat sepele, menurut Om Moto, malah menunjukkan keseriusan para desainer Lambretta untuk membuat desain yang seamless,  alias menyatu. Kalau perlu tinggal ditarik. Ini yang Om Moto sebut smart design.

Desain dek yang rata, menurut Om Moto juga merupakan nilai plus. Selain berusaha memelihara tradisi dek rata Lambretta, walaupun tidak lagi rata 90 derajat, desain dek rata ini sangat bermanfaat. Terbukti ketika Om Moto perlu membawa aki jumbo 100 Ampere Hour yang tekor akibat truk Om Moto jarang dipanasin. Aki tersebut bisa duduk dengan manis di tengah tengah dek yang rata dan luas, tinggal  ditambah ganjelan kain biar bodi si Mint nggak lecet.

Untuk desain pijakan untuk penumpang belakang,  menurut Om Moto ini desain pintar yang ngirit. Karena tidak perlu menggunakan part mekanik lagi. Sayangnya kurang mundur sedikit  kebelakang.

Desain yang menjadi nilai plus yang lain menurut Om Moto adalah ukuran kaca spion yang pas, tidak terlalu teralu besar dan juga tidak terlalu kecil. Mungkin pas menjadi filosofi desain Lambretta saat ini. Untuk ngintip ngintip kebelakang sekilas pada saat berdarmawisata keliling kota sebelum bermanuver belok lebih dari cukup. Untuk mata Om Moto yang masuk ukuran tua ini, Om Moto sudah tidak mungkin menggunakan spion imut imut dibawah setang.

Untuk ruang bagasi, dari dimensi motor yang tidak terlalu besar, Om Moto tidak berharap banyak.  yang jelas, ruang bagasi dibuat semaksimal mungkin oleh para desainer Lambretta V125 ini. Dan sayangnya helm ukuran besar apalagi full face Om Moto nggak muat. Nolan standard Om Moto aja tidak muat masuk. Cuma masuk sedikit walaupun sudah dibolak balik.

Yang jelas, beras 5 liter dan roti tawar bisa masuk dengan aman tetiba saat dapat titah mendadak dari Nyonya Moto untuk mampir dulu belanja ke warung langganan.

Untuk bagasi depan, jangan berharap ruang yang luas, semua serba mepet. Tapi tersedia dua fitur di bagasi bagian depan ini. Yang pertama adalah charger usb untuk mengisi ulang daya baterai smartphone dan yang kedua ada switch immobilizer.

Untuk charger usb tentu sangat bermanfaat untuk zaman now,  sayangnya bagasi depan Lambretta V125 ini untuk hp yang ukuran besar mungkin agak susah masuk.  Sedangkan fitur immobilizer ini walaupun manual, lumayan menolong untuk menambah keamanan pada saat parkir. Cukup ubah switch ke posisi off sehingga motor tidak bisa dihidupkan. 

Untuk instrument cluster , Om Moto suka dengan penggabungan antara Analog dan Digital yang ditawarkan oleh Lambretta V125 ini. Desain minimalis, namun fungsional.

Informasi pokok yang diperlukan tampil tersusun dengan rapi.  Fuel gauge alias meteran bensin, voltase aki, jam dan paling atas adalah RPM. Terjepit di antara RPM dan informasi di bawah adalah fungsi trip dan odometer yang bisa di set untuk muncul sesuai kebutuhan dan bila ditekan panjang dapat mengubah satuan yang digunakan. Dari km ke mile atau sebaliknya. Harap dicatat, tidak ada satuan unit “banana for scale”.

Dan yang Om Moto masih bingung, apakah Om Moto salah pencet sehingga warna LCD-nya jadi merah jambu. Rasa rasanya, kalau memang warna merah jambu adalah warna standar yang tidak bisa dirubah untuk keseluruhan unit Lambretta V125, agak aneh. Sungguh sungguh ndak matching.

Terakhir yang Om Moto juga suka dari Lambretta V125 ini adalah lapisan jok kulit yang digunakan. Membuat tampilan Lambretta ini secara keseluruhan semakin tampak wah.

Bersama dengan Boncengers

Entah karena desain yang sudah matang dipertimbangkan, tinggi yang pas, atau hanya kebetulan, pada saat mengangkut boncengers dengan Lambretta V125, Om Moto tidak merasa terganggu dengan kaki boncengers di belakang. Apalagi pada saat lampu merah atau harus menurunkan kaki bermanuver di kemacetan lalu lintas.

Tapi beberapa boncengers yang Om Moto angkut, terutama yang posturnya lumayan tinggi, mengeluh karena selalu merosot saat Om Moto nge-gas. Mungkin karena sesama lelaki, jadi nggak bisa pelukan akhirnya merosot, atau karena jok kulit yang licin, atau posisi duduk yang didesain kurang tinggi dari pengendara motor. Yang jelas, Nyonya Moto nggak merosot. 

Konsumsi Bahan Bakar

Waktu Om Moto menjemput si Hijau Mint ini, indikator bensin berada di satu garis, dan lampu belom indikator bensin belum berkedap kedip. Keseokan harinya, pada saat Om Moto mengajak si Hijau Mint ini jalan jalan, indikator bensin mulai berkedap kedip minta minum.

Dengan pengisian 5 liter dan setelah Om Moto gunakan beberapa hari menempuh trip sekitar 160km, didapat rata rata 32km/liter untuk konsumsi bahan bakar. Menurut Om Moto cukup irit, mengingat selama penggunaan Lambretta V125 ini sering Om Moto ajak berkencan dengan putaran mesin tinggi, alias digeber. Not bad.

Overall Build Quality

Walaupun sayangnya berbodi plastik, namun menggunakan plastik dengan kualitas tinggi dan dibuat sangat presisi. Om Moto tidak menemukan sambungan yang tidak  sejajar seperti motor motor lain pada umumnya. Paling tidak untuk saat ini.

Selain itu, penggunaan plastik membuat bobot Lambretta v125 ini menjadi jauh lebih ringan sehingga lebih mudah diajak bermanuver dibanding pesaingnya.

***Catatan Om Moto

Setelah lebih dari seminggu berkencan dengan Lambretta V125 ini. Terus terang Om Moto jatuh cinta. Walaupun secara tenaga dan teknologi mungkin kalah dengan rivalnya dari merek merek lain, namun secara keseluruhan Om Moto suka motor ini. Karena menurut Om Moto, motor ini berhasil mewujudkan transformasi Lambretta yang dulu menjadi Lambretta yang kekinian. Lambretta as a workhorse, but in style.

Mesin dari pabrikan yang Om Moto tau persis dapat diandalkan, kegesitan bermanuver, konsumsi bahan bakar yang lumayan irit, serta kenyamanan berkendara,  membuat motor ini bisa diandalkan sebagai workhorse, seperti visi dari Innocenti pada awalnya.

Selain itu, salah satu faktor yang secara personal menjadi catatan Om Moto adalah citra kendaraan. Terus terang Om Moto rindu masa masa 20 tahun yang lalu naik Vespa pulang kerja malam malam, Om Moto tidak pernah kena razia Pak Polisi. Karena pada masa itu, asosiasi merek Vespa adalah motor orang tua. Walaupun sejatinya positioning Vespa adalah “for fun”. Om Moto kangen dengan citra “Old Man Workhorse”, yang bolehlah ditambah “In style” karena kekinian. 

Dengan entry point yang cukup mahal (sekitar 44.5 jt pada saat blog Om Moto ini ditulis), Lambretta V125 ini mungkin tidak untuk semua orang. Tapi Om Moto yakin ada ceruk pasar untuk motor ini ditengah tengah kepungan merek merek yang lain. Karena walaupun ada kompromi desain, Om Moto tetap menemukan karakteristik Lambretta yang unik. Bukan sebuah skuter “me too”. 

But it is just my personal wish, Om Moto personal wish. Hopefully, Lambretta image stays as “Old Man Workhorse……. in Style”. Mature and reliable. 

***ini adalah pendapat pribadi Om Moto.

| Om Editor